LOKER OTOMOTIF

Thursday, January 19, 2017

Sejarah Islam di Tiongkok (4)


Selamat pagi (waktu Saudi) "murid-murid" di belahan dunia manapun kalian berada. Hari ini cik gu mau melanjutkan "kuliah virtual" yang sempat tertunda tentang sejarah dan perkembangan Islam di China (Tiongkok). Bagi yang ketinggalan pelajaran karena sering mbolos, silakan dibaca-baca dulu postingan-postinganku sebelumnya.

Seperti sudah saya jelaskan, Islam masuk ke Tiongkok sejak masa-masa awal perkembangan Islam di abad ketujuh Masehi yang bertepatan dengan Dinasti Tang di Tiongkok. Sejak wafatnya Nabi Muhammad, di era Khulafaur Rasyidin, Daulah Umayyah, dan Daulah Abbasiyah dan pasca-Islam Abbasiyah sudah terjalin relasi politik-ekonomi-budaya dengan sejumlah kekaisaran di Tiongkok: Tang, Song (Sung), Yuan, Ming, Ching. Hubungan ini terus berlanjut di era-era berikutnya.

Dinasti Tang dulu menyediakan tempat / daerah khusus untuk kaum Muslim yang disebut Fan Fang. Di era Kekaisaran Tang dan Song dulu, agama Islam disebut Dashi fa (atau ta-shi fa) atau "Hukum atau agama [orang-orang] Arab". Nama "Dashi" ini diambil dari "tashi" atau "tazi", yaitu sebutan orang-orang Persi terhadap Bangsa Arab.


Sebutan "Dashi" ini kemudian diganti menjadi Hui Hui Jiao yang artinya kurang lebih "sebuah agama yang pasrah dan kembali kepada Tuhan". Sebelum akhir abad ke-11, nama Hui Hui Jiao ini yang dipakai untuk menyebut Islam oleh orang-orang China, Mongol, Khiran, dan Turki yang tinggal di berbagai perbatasan di Tiongkok.

Konon yang memperkenalkan nama Hui Hui Jiao sebagai pengganti Dashi fa ini adalah Amir Sufair (kadang disebut Su Fei-erh atau So-fei-er), seorang pemimpin politik-pemerintahan Muslim dari Bukhara (dulu bagian dari Russia tapi kini masuk wilayah Uzbekistan). Imam Bukhari (Abu Abdullah Muhammad bin Ismail), seorang ahli Hadis kenamaan yang berdarah Persi yang koleksi hadis-hadisnya banyak dipakai oleh umat Islam itu lahir di daerah Bukhara ini.

Amir Su Fei-erh ini merupakan tokoh penting di balik islamisasi etnis Hui di China. Etnik Hui adalah pemeluk Muslim terbesar di Tiongkok, kemudian disusul etnik Uyghur yang campuran Turki yang mendiami kawasan Xinjiang. Amir Sufair dulu diundang khusus oleh Kekaisaran Song untuk ikut membantu memerangi kaum Khitan (disebut juga Kitan, Kidan, Khitai) yaitu suku nomad dari Mongolia yang mendiami kawasan timur laut Tiongkok. Kaum Khitan ini mendirikan Dinasti Liao, yang dipimpin oleh Khagan Abaoji pasca runtuhnya Kekaisaran Tang. Karena itu, oleh Dinasti Song, mereka dianggap sebagai kelompok berbahaya yang bisa menggerogoti kekuasaan Song.

Dalam rangka untuk membantu menghalau kaum Khitan inilah, Kaisar Shenzong (Shen-tsung) dari Dinasti Song mengundang Amir Sufair beserta ribuan milisi ke Tiongkok. Mereka kemudian tinggal di Kaifeng (ibuota Song) dan Yenching atau Yanjing (sekarang Peking atau Beijing), daerah yang dulu sering diserbu oleh kaum nomad Khitan. Sejarawan Raphael Israeli dalam bukunya, "Islam in China", bahkan menyebut Dinasti Song juga mendatangkan ribuan orang Arab untuk bergabung dengan milisi Bukhara pimpinan Amir Sufair ini. Mereka mendiami bebrbagai kawasan di Tiongkok seperti Shandong, Hunan, Anhui, Hubei, dlsb.

Karena jasa-jasanya dalam membantu Kekaisaran Song inilah, maka Amir Sufair diberi gelar "Putra Mahkota" oleh Kaisar Shengzong. Amir Sufair juga disebut-sebut sebagai "pendiri" dan "bapak" komunitas Muslim di Tiongkok (Bersambng Ke Sejarah Islam di Tiongkok (5) ).

0 komentar: