LOKER OTOMOTIF

Sunday, January 15, 2017

Arab Tak Berarti Habib (6)

Kuliah virtual hari ini melanjutkan postinganku yang sempat tertunda yang berjudul "Arab Tak Berarti Habib". Ini edisi keenam. Jadi yang "ketinggalan kelas", silakan baca-baca dulu postingan-postinganku sebelumnya tentang ini supaya nyambung.

Seperti saya jelaskan sebelumnya, setelah terjadi huru-hara dan perebutan kekuasaan politik-pemerintahan antara klan-klan pecahan Suku Quraisy, yaitu Bani Hasyim (Ali, Hasan, Husain, cs) dan klan Bani Umayah (Usman, Muawiyah,Yazid, cs) pasca wafatnya Nabi Muhammad, kekalahan ada di pihak Bani Hasyim. Muawiyah berhasil membangun Dinasti Umayah (beribukota di Damaskus, Suriah) yang berkibar selama kurang lebih 90 tahun, sebelum kelak dihancurkan oleh klan Suku Quraisy lain: Bani Abbas, yang kemudian mendirikan Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Irak.

Meskipun kubu Bani Hasyim kalah perang, bukan berarti sejarah mereka berakhir. Keturunan Hasan maupun Husain kelak ada yang mendirikan dinasti baru dan meneruskan karir di dunia politik-pemerintahan, tapi ada pula yang memilih jalur dakwah dan agama, meninggalkan arena politik praktis.


Husain hanya melahirkan satu keturunan: Ali Zainal Abidin yang kemudian nikah dengan Fatimah (putri Hasan sendiri) yang kelak melahirkan Muhammad al-Baqir. Dari jalur inilah kemudian lahir Ahmad bin Isa al-Muhajir, leluhur para sayyid dan habib di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Keturunan Husain ini kelak ada yang mendirikan Dinasti (Daulah) Fatimiyah yang menganut aliran Syiah Ismailiyah di Afrika Utara yang berpusat di Mesir, yang berkuasa sejak abad ke-10 sampai akhir abad ke-12. Dinasti ini kelak dihancurkan oleh Jenderal Salahuddin Yusuf bin Ayyub yang kemudian mendirikan Dinasti Ayubiyah yang berpaham Sunni. Menarik untuk dicatat, Universitas Al-Azhar di Mesir itu didirkan oleh rezim Syiah Dinasti Fatimiyah ini.

Sementara itu, Hasan menurunkan enam anak: Muhammad, Zaid, Qasim, Hasan, Abu Bakar, dan Fatimah. Beberapa keturunan Hasan juga mendirikan sejumlah dinasti kecil. Kelak, keturunan mereka ada yang mendirikan Dinasti Alid di Iran utara (Tabaristan, Daylam dan Gilan) yang didirikan oleh Hasan bin Zaid bin Hasan bin Ali bin Abi Thalib yang berkuasa sejak abad ke-9 sampai 14. Dinasti Alid ini menganut paham Syiah Zaidiyah. Ada pula yang mendirikan Dinasti Idrisiyah di Maroko yang didirikan oleh Idris bin Abdullah bin Hasan. Keturunan lain, ada yang mendirikan Dinasti Sulaimaniyah di Tihama (dulu masuk wilayah Yaman), dlsb.

Ada pula yang menjadi penguasa Hijaz atau Syarif Makah. Syarif Husain adalah penguasa Hijaz (wilayah Arabia bagian barat yang mencakup Makah dan Madinah) terakhir yang hancur pada 1920-an. Sejak hancurnya Syarif Husain ini, sebutan "syarif" yang dulu untuk menyebut "keturunan Hasan bin Ali" kemudian lenyap, kemudian diganti dengan "sayyid" yang dulu dipakai untuk menyebut "keturunan Husain bin Ali saja. Itulah sebabnya kenapa ulama kharismatik Makah keturunan Hasan yang bernama Muhammad bin Alawi bin Abbas al-Hassani populer dengan sebutan "Sayyid" bukan Syarif. Para ulama dan kiai dari Nusantara banyak yang berguru dengan ayah (Sayyid Alawi) atau kakek (Sayyid Abbas) beliau. Bukan hanya itu, Sayyid Abbas, Sayyid Alawi, dan Sayyid Muhammad sendiri banyak berguru dengan para ulama Indonesia di Makah saat itu yang lumayan banyak dan tersohor (lain kali mungin saya jelaskan).

Kedua putra Syairf Husain ini, bernama Abdullah dan Faisal, kelak menjadi penguasa / raja Yordania (Bahasa Arab: Urdun) dan Irak atas bantuan Inggris yang dulu menjadi rival Turki Usmani (Ottoman) di Arab dan Timur Tengah. Abdullah menjadi Raja Yordania (al-Mamlakah al-Urduniyah al-Hasyimiyah) yang dulu bernama Emirat Trans-Yordania (Imarat Syarq al-Urdun). Penamaan Yordania sebagai "Kerajaan Hasyimiyah" ini untuk menegaskan kalau mereka adalah keturunan dari klan Bani Hasyim yang musuhan dengan Bani Umayah di atas. Sementara itu Faisal didaulat menjadi Raja Irak pada tahun 1920-an, yang kelak diberontak oleh kelompok Syiah, Yazidi dan Assyria. Inggris dan Perancis dulu sibuk berkoalisi dengan para tokoh Muslim Arab di Timur Tengah untuk menggembosi pengaruh Turki Usmani (bersambung).

0 komentar: