LOKER OTOMOTIF

Wednesday, January 18, 2017

Komunisme di Arab dan Timur Tengah (3)

Mumpung masih ingat, ini melanjutkan cerita tentang sejarah komunisme di Arab dan Timur Tengah. Lagi, bagi yang kentinggalan kelas, silakan "diubek-ubek" dulu postingan-postinganku sebelumnya. Saya sudah beberapa kali menulis tentang komunisme ini.

Dalam konteks Arab dan Timur Tengah, munculnya gerakan komunisme (Bahasa Arab: "syayuiyyah") itu sudah terjadi sejak 1920-an, pasca Revolusi Bolshevik pimpinan Lenin tahun 1917 yang berhasil menggulingkan rezim Tsar yang menandai berdirinya Uni Soviet. Kini, Soviet sudah almarhum dan berkeping-keping menjadi puluhan negara. Russia sebagai "penerus" Soviet tidak lagi bisa disebut sebagai "rezim komunis" karena ada banyak perubahan fundamental yang terjadi disini menyangkut sistem politik-pemerintahan dan sosial-ekonomi (kapan-kapan saya ulas secara terpisah).

 Kembali ke laptop. Sejak awal, sejumlah tokoh, pemikir, dan aktivis Arab, Turki, Kurdi, Azeri, Yahudi, Persi, Armenia, dlsb, di kawasan Timur Tengah sudah kesengsem dengan komunisme. Mereka bukan hanya dari kalangan Muslim saja tetapi juga Kristen dan Yahudi. Di sejumlah kawasan seperti Palestina, Mesir, Irak, Libanon, dlsb, mereka berkoalisi mendirikan Partai Komunis di daerah masing-masing.

 Ada banyak sarjana yang sudah mengulas tentang asal-usul, sejarah dan perkembangan komunisme di Arab dan Timur Tengah ini. Kalau berminat, silakan baca karya-karya Tareq Ismael, Harold Cubert, Musa Budairi, Rifa'at El-Sa'id, Ilana Kaufman, Joel Beinin, Sami Hanna, SM Agwani, dan masih banyak lagi. Di antara mereka, Tareq Ismael yang paling spesial karena betul-betul spesialis di kajian komunisme dan sosialisme di Arab dan Timur Tengah yang telah menulis sejumlah buku penting seperti "The Communist Movement in the Arab World", "The Communist Movement in Syria and Lebanon", "The Arab Left", "The Communist Movement in Egypt," "The Sudanese Communist Party", dlsb.

Embrio komunisme di kawasan Arab dan Timur Tengah bermula dari gerakan politik yang dilakukan oleh para mahasiswa dan buruh Turki di Jerman yang ikut bergabung dalam aksi protes yang dipelopori oleh Partai Komunis Jerman pada tahun 1919. Sebagian mereka kemudian mendirikan Partai Petani dan Buruh Turki. Gerakan komunisme di Jerman juga berhasil memikat Husain al-Rahhal yang dijuluki sebagai tokoh Marxist pertama Irak.

Di Mesir, "trio" Yahudi-Muslim-Kristen Koptik (Joseph Rosenthal, Mahmud Husni al-Urabi, dan Anton Marun) mendirikan Partai Sosialis Mesir pada tahun 1921. Mahmud Husni al-Urabi adalah alumnus Moscow, Soviet, yang kemudian menyulap Partai Sosialis menjadi Partai Komunis di Mesir. Sementara itu di Palestina, Radwan al-Hilu yang juga "didikan Moscow" adalah tokoh di balik gerakan "Arabisasi" Partai Komunis Palestina. Ia menjadi tokoh sentral PKP (Partai Komunis Palestina) karena mendapat restu dari pimpinan Comintern, organisasi internasional partai-partai komunis untuk megarabkan PKP yang sebelumnya dikuasai Yahudi.

Revolusi Arab dari tahun 1936 sampai 1939 menyebabkan Partai Komunis Palestina pecah menjadi sejumlah kelompok / organisasi independen seperti National Liberation League yang didirikan oleh Bulus Farah. Di Libanon dan Suriah, pendirian Partai Komunis dipelopori oleh Fu'ad Shamali dan Yusuf Yazbak. Di Iran, pendirian Partai Komunis dipelopori oleh para tokoh Muslim dan gerilyawan Jangali. Mereka sempat mendirikan Republik Iran Sosialis Soviet di Gilan. Sementara itu di Irak, pentolan Partai Komunis-nya adalah Salman Yusuf Salman.

Bergabungnya para tokoh, pemikir, dan aktivis Islam, Kristen, dan Yahudi dalam komunisme di Arab dan Timur Tengah menunjukkan bahwa komunisme memang tidak ada hubungannya dengan ateisme seperti sudah berulang kali saya tegaskan karena keduanya memang sebuah konsep, filosofi, dan ideologi yang berbeda. Jadi, kalau masih ada yang menyamakan antara komunisme dan ateisme, mereka betul-betul mengalami "gagal permanen" dalam memahami komunisme dan ateisme (bersambung). Postingan Prof. DR. Sumanto Al Qurtuby

0 komentar: