LOKER OTOMOTIF

Wednesday, January 18, 2017

Kafirku, Kafirmu, Kafir Kita

Dalam postinganku sebelumnya (silakan baca dulu “Pluralisme Kafir” supaya nyambung dengan postingan ini), saya sudah menjelaskan tentang arti dan makna kata “k-f-r” itu sangat beragam dan kompleks. Kata “k-f-r” ini bukan hanya terdapat dalam Bahasa Arab saja tetapi juga di berbagai bahasa: Hebrew, Aram, Persi, Turki, Albanian, Nuristan, dan bahkan Sanskrit. Implementasi kata ini juga beraneka ragam, tidak pernah merujuk pada satu subyek saja. Semua tergantung pada konteks sosial-politik-budaya masing-masing masyarakat.

Dalam bahasa Arab juga sama. Kata kerja “k-f-r” (kufr) yang diderivasi dari Bahasa Hebrew, Aram, dan Persi, mempunyai arti dasar yang beragam, antara lain “menutupi, menyembunyikan, menolak, mengelabui, memindahkan, melenyapkan”, dlsb. Karena itu kata kerja “k-f-r” dalam Bahasa Arab (baik sebelum maupun sesudah era keislaman pada abad ke-7 M) juga digunaan untuk berbagai akivitas yang mengandung makna menutupi, menyembunyikan, menolak, mengelabui, memindahkan, melenyapkan”, dlsb itu.

Karena kata kerja (fi’il) “k-f-r” itu beragam, maka arti kata “kafir” atau pelaku (fa’il) tindakan “kufr” itu juga bermacam-macam. Saya sudah katakan dalam postingan sebelumnya, misalnya, kata “kafir” (jamak: “kuffar”) dalam Bahasa Arab juga merujuk pada “petani” (lihat misalnya dalam Al-Qur’an, Surat Al-Hadid ayat 20). Kenapa petani disebut “kafir”? Karena aktivitas petani adalah “menutupi benih di dalam tanah”. Semua pelaku aksi atau aktivitas yang bernuansa “menutupi” atau “menyembunyikan” bisa disebut “kafir”.


Dari kata “k-f-r” inilah kemudian menjadi kata “coverir” atau “covrir” (Anglo-Perancis), “cooperire” (Latin), “koffer” (Belanda), dan “cover” (Inggris), antara lain. Kata “koper” dalam Bahasa Indonesia juga memiliki akar yang sama dengan “k-f-r” ini karena “koper” dipakai untuk “menutupi barang”. Lalu, bagaimana dengan kata “kuper”? Ya Anda cari sendirilah, masak saya terus? He he

Dalam Al-Qur’an pun, kata yang mengandung unsur “k-f-r” ini beraneka ragam. Ada sekitar 421 kata “k-f-r” yang disebut dalam Al-Qur’an dan penggunaanya bermacam-macam, maknanya bermacam-macam, konteksnya juga bermacam-macam, latar belakang sejarahnya juga bermacam-macam.

Kata “kafir” misalnya, ada yang bermakna petani, ada pula yang merujuk pada kelompok suku-suku Mekah, kaum politeis, kelompok “non-teis” atau “kaum tak bertuhan”, kelompok penentang misi dakwah Nabi Muhammad, kelompok penyekutu Tuhan (musyrikun), kaum yang tidak percaya kepada Allah SWT sebagai “Tuhan”, umat yang tidak percaya pada Hari Pembalasan atau Hari Kiamat, umat yang tidak percaya terhadap kehidupan paska-kematian dan dan hal-ikhwal yang berkaitan dengan alam ahirat termasuk surga & neraka, orang-orang korup, tiran, penganiaya dan anti-kemanusiaan (dzalim), dlsb.

Ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebut Yahudi maupun Kristen sebagai “kafir” merujuk pada kelompok suku-suku Arab Yahudi dan Kristen tertentu di Jazirah Arab (misalnya di Yasrib atau Najran) yang mengingkari terhadap “misi kenabian” atau melanggar terhadap “kontrak sosial” antara mereka dan Nabi Muhammad atau yang mempraktekkan konsep-konsep teologi “secara ekstrim”. Bukan ditujukan untuk kaum Yahudi atau Kristen secara umum.

Singkatnya, kata “kafir” itu tidak melulu berkonotasi teologi-keagamaan tetapi juga sosial-politik-ekonomi-kebudayaan. Semua “kata” dalam bahasa apapun (termasuk kata “kafir” dalam Bahasa Arab) awalnya adalah “netral” atau “bebas nilai” tetapi kemudian dipakai dengan “makna tertentu” oleh kelompok-kelompok tertentu yang memiliki kepentingan tertentu. Misalnya, sejumlah kelompok “Salafi-Wahabi ekstrim” menyebut Syiah, Ahmadiyah, dan sekte-sekte tertentu sebagai “kafir” meskipun mereka mengimani eksistensi Allah SWT. Padahal, orang-orang yang hobi teriak “kafir” pada orang lain itu bisa jadi seorang “kafir” itu sendiri. Ini yang namanya “kafir teriak kafir” he he. Bersambung aja ah capek nulisnya.
Jabal Dhahran, Arabia. Postingan Prof. DR. Sumanto Al Qurtuby

0 komentar: