Ini melanjutkan “kuliah virtual” tentang sejarah dan perkembangan
Islam di China (Tiongkok). China bukan hanya rumah bagi pemeluk
Konghucu, Taoisme, Budha, atau pengikut non-teis dan ateis, tetapi juga
umat Islam. Menurut data yang dirilis oleh Yang Zongde pada tahun 2010
dalam karyanya, Study on Current Muslim Population in China, ada sekitar
23 juta kaum Muslim di China atau sekitar 1,7% dari total penduduk.
Dengan begitu, jumlah umat Islam di China jauh lebih besar ketimbang
kaum Muslim di Qatar, Kuwait, Bahrain, Uni Emirat Arab, Yordania,
Palestina, dlsb. Arab Saudi saja sebagai negara paling luas dan gemuk di
kawasan Arab Teluk hanya berpenduduk sekitar 30 juta.
Mayoritas
Muslim di China beretnik Hui, kemudian Uyghur yang merupakan campuran
etnik Turki yang mendiami kawasan Asia Tengah dan Timur. Xinjiang adalah
kawasan Muslim terpadat di China, disusul Ningxia, Gansu, dan Qinghai.
Sebagian besar penduduk Muslim China beraliran Sunni, meskipun pengikut
Syiah juga lumayan banyak. Menariknya, tidak ada catatan tentang konflik
Sunni-Shiah di China.
Perlu diketahui, usia Islam di China jauh
lebih tua ketimbang Islam di “Indonesia”. Para sejarawan ahli China
Islam seperti Dru Gladney, Marshall Broomhall, C. Sell, Muhammad Fu,
Ibrahim Tien Yin Ma, dlsb, mencatat Islam sudah masuk ke China sejak
awal perkembangan Islam itu sendiri. Para sahabat Nabi Muhammad
sendirilah yang mula-mula memperkenalkan Islam ke China. Diantara para
sahabat Nabi yang memperkenalkan Islam di China adalah Sa’ad bin Abi
Waqqash, Hassan bin Tsabit, Suhaila Abu Arja, Wahab bin Abu Kabsyah, dan
Uwais al-Qarani. Mereka mencapai China ada yang melalui “jalur maritim”
atau daratan (dikenal dengan Silk Road atau “Jalur Sutera”). Ada para
sahabat Nabi yang bahkan “kombak-kambek” alias bolak-balik ke China baik
urusan perdagangan maupun dakwah.
Di antara sekian sahabat Nabi
yang memperkenalkan Islam di China, Sa’ad bin Abi Waqqash-lah yang
paling senior dan terkenal. Konon beliau adalah paman Nabi Muhammad dan
pemeluk Islam yang ke-17. Beliau juga pernah menjadi Gubernur Basrah.
Beliau dipercaya wafat di Guangzhou, China, dan makamnya hingga kini
masih ramai diziarahi kaum Muslim.
Sa’ad bin Abi Waqqash jugalah
yang diutus secara resmi oleh Khalifah Usman bin Affan untuk menemui
Kaisar Gaozong guna menjalin “hubungan diplomatik” dengan Dinasti Tang.
Untuk mempererat persahabatan dengan Arab dan Islam sekaligus untuk
mengenang Nabi Muhammad, Kaisar Gaozong kemudian menginstruksikan
pembangunan masjid di Canton yang bernama Masjid Huaisheng atau populer
dengan sebutan Masjid Raya Canton yang dibangun tahun 627 (seperti dalam
foto di bawah ini). Oleh sejarawan, masjid ini dianggap sebagai masjid
tertua di dunia setelah Masjid Haram di Makah dan Masjid Nabawi di
Madinah.
Setelah jejak-jejak Islam di China disemai oleh para
sahabat, kelak tradisi hubungan persahabatan Islam dan China ini
dilanjutkan oleh Daulah Ummayah dan Daulah Abbasiyah serta rezim-rezim
Islam berikutnya. Di China pun, hubungan baik dengan Islam terus
berlanjut paska tumbangnya Dinasti Tang. Kelak, Islam di China mengalami
puncak kejayaan di masa Dinasti Yuan dan kemudian Dinasti Ming
(bersambung).
0 komentar:
Post a Comment