LOKER OTOMOTIF

Monday, January 23, 2017

Para Orientalis Barat Pro-Islam

Setiap membicarakan tentang kaum orientalis, umat Islam di Indonesia biasanya langsung berpikiran negatif, yakni bahwa kaum orientalis itu jahat, anti-Islam, pembenci Muslim beserta budayanya, dlsb. Bagi sebagian mereka, kaum orientalis (baik yang "klasik" maupun kontemporer, baik dari Eropa maupun Barat pada umumnya) adalah musuh Islam dan umatnya.

Bahkan oleh sebagian tokoh, kelompok dan ormas Islam di Tanah Air, kaum orientalis ini dijadikan sebagai materi pengajian, dakwah, dan khotbah Jum'at serta bahan kampanye dan propaganda hitam anti-Barat (dengan demikian anti-Kristen dan Yahudi).

Biasanya yang dijadikan "andalan" rujukan adalah sosok seperti Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang sarjana dan orientalis Belanda yang juga penasehat politik pemerintah Belanda dulu. Ia pernah "menyamar" menjadi Muslim dengan nama Abdul Ghaffar dan tinggal beberapa bulan di Makah untuk mengamati aktivitas umat Islam Indonesia disana. Perlu kajian lebih intensif mengenai karya-karyanya tentang "sosok fenomenal" dan "sarjana prolifik" ini supaya lebih imbang dalam memahami pemikiran-pemikiran akademiknya.


Kebiasaan dari umat manusia itu kalau sudah berseberangan secara politik dan ideologi, kemudian semua produk pemikiran kesarjanaan seseorang itu ikut menjadi tampak buruk dan kelam. Kebiasaan umat manusia juga, kalau sudah melihat keburukan dari satu orang dari sebuah komunitas, maka semua anggota komunitas yang sebetulnya tidak tahu apa-apa kemudian ikut kena getahnya. Hal ini persis seperti yang menimpa kaum orientalis. Gara-gara "seorang Snouck", semua orientalis kena getahnya.

Padahal, ada banyak sekali kaum orientalis yang sangat positif, apresiatif, bersahabat, dan ramah dengan Islam dan kaum Muslim. Guru-guruku di Boston University dulu rata-rata dari kelompok ini. Bahkan beberapa orientalis masuk Islam seperti Leopold Weiss yang kemudian berganti nama menjadi Muhammad Asad, seorang Yahudi Hungaria, salah satu pemikir berpengaruh di Eropa pada abad ke-20, dan penulis buku legendaris: "The Road To Mecca".

Ada beberapa faktor yang membuat para orientalis ini masuk Islam beneran (tidak seperti Pak Snouck tadi) karena "kesengsem" dengan sejumlah ajaran sufisme yang toleran-inklusif atau tertarik dengan kebudayaan masyarakat Islam tertentu.

Beberapa kaum orientalis terkemuka (baik yang kemudian menjadi Muslim maupun tidak) yang sangat baik dan positif persepsi, pemikiran, dan pandangannya terhadap Islam dan kaum Muslim adalah, antara lain, Emile Dermenghem, Regis Blachere, Marcel Kurpershoek, Charles Montagu Doughty, Gerarld De Gaury, M. Julius Germanus, M. Marmaduke Pickthall, Rene Guenon, dlsb.

Kalau jama'ah Pesbuker berminat, kapan-kapan akan saya jelaskan sejarah, petualangan, sepak terjang, dan pemikiran mereka yang aduhai dan melegenda (bersambung)

Jabal Dhahran, Arabia
Prof. DR. Sumanto Al Qurtuby

0 komentar: