LOKER OTOMOTIF

Tuesday, January 31, 2017

Yahudi di Arabia dan Timur Tengah (3)


Tidak seperti Kristen yang cukup terbatas populasinya di sekitar Semenanjung Arabia (kini: Arab Saudi dan Yaman), eksistensi umat Yahudi cukup signifikan di kawasan ini jauh sebelum Nabi Muhammad mewartakan Islam pada abad ke-7 M. Umat Yahudi ini tersebar di berbagai daerah di Semenanjung Arabia utara: Khaibar, Madinah (dulu: Yasrib), Makah, Jeddah, dlsb.

Di "Yaman Kuno", umat Yahudi juga eksis terutama sejak Kerajaan Himyar (al-Mamlakah al-Himyar, berdiri sejak 110 SM) konversi ke Yahudi pada tahun 380 M meninggalkan tradisi politeisme. Salah satu Raja Arab Yahudi dari Kerajaan Himyar yang sangat populer adalah Tubba Abu Karab As'ad (memimpin antara 390-420) yang kemudian agresif melakukan "Yahudiisasi" di Semenanjung Arabia.

Saturday, January 28, 2017

Yahudi di Arabia dan Timur Tengah (2)


Meski judulnya berbeda, postingan ini adalah kelanjutan dari "kuliah virtual" sebelumnya yang berjudul "Arab Yahudi, Yahudi Arab, dan Suku-Suku Yahudi di Jazirah Arab". Bagi yang kemarin "mbolos sekolah", silakan baca dulu postinganku itu supaya nyambung. Kata "Arabia" yang saya maksud di judul ini adalah Semenanjung Arab yang wilayahnya kini mencakup Arab Saudi dan Yaman, dua wilayah yang sangat penting dalam formasi Islam awal.

Secara garis besar, ada dua kelompok atau komunitas Yahudi di Arab dan Timur Tengah dewasa ini. Pertama, Yahudi Mizrahi atau Mizrahim atau al-Masyriqiyyun (kadang disebut "Yahudi Timur"), yaitu komunitas "Yahudi asli" (native) Timur Tengah yang nenek-moyangnya sudah ada sejak zaman biblikal sekitar 1,500 SM. Mereka tinggal di berbagai kawasan Arab dan Timur.

Arab Yahudi, Yahudi Arab, dan Suku-Suku Yahudi di Jazirah Arab

Topik "kuliah virtual" kali ini cukup rumit dan perlu konsentrasi ekstra untuk mencernanya. Sebelum saya jelaskan tentang topik ini, perlu Anda pahami dulu konsep dan istilah Arab dan Yahudi ini supaya tidak simpang siur dan salah paham yang kemudian berpotensi mengantarkan pada "paham yang salah" he he.
Arab adalah sebuah "entitas etnik". Konon, etnik Arab ini terbesar kedua di dunia (sekitar 450 juta) setelah etnik Han di Tiongkok. Mereka tidak hanya tinggal di kawasan Afrika dan Timur Tengah saja tetapi juga di berbagai belahan dunia ("Arab Diaspora"), termasuk Amerika, Eropa, dan Asia.

Sebagai sebuah etnik, Arab terbagi menjadi ribuan suku, sub-suku, dan klan. Mereka juga tinggal di berbagai negara, tidak hanya di 22 negara yang tergabung di Liga Arab saja tetapi juga di negara-negara lain di "bumi yang tidak datar" ini, termasuk di Indonesia. Perlu diketahui, tidak semua orang Arab yang tinggal di kawasan "Arab diaspora" diluar Timur Tengah itu bisa berbahasa Arab (membaca, menulis, dan "bercakap") karena sudah ratusan tahun tinggal di daerah baru dan beradaptasi dengan bahasa dan budaya masyarakat setempat.

Wednesday, January 25, 2017

Arab Tak Berarti Habib (10)

Setelah kekuasaan Syarif Husain yang keturunan Ali bin Abi Talib rontok di Makah pada tahun 1924, ia beserta keluarganya migrasi ke Transjordan (kini: Yordania) menyusul putranya. Sekitar tiga tahun sebelumnya, 1921, putra Syarif Husain kedua (Abdullah) sudah menjadi seorang amir (raja) di Emirat Trans-Yordania (Emirate of Transjordan), yang didirikan atas bantuan Inggris, dan memang waktu itu menjadi proktektorat (daerah perlindungan) Inggris.

Wilayah Transjordan itu dulu meliputi Yordania, Suriah dan Palestina. Sudah sejak 1916, Syarif Husain memimpin "Revolusi Arab" untuk melawan kekuasaan Turki Usmani (Ottoman). Revolusi ini disokong oleh Inggris, Perancis, suku-suku Arab Badui lokal, serta komunitas Kristen dan Kirkasia. Dulu, beberapa negara Eropa berkongsi untuk menggembosi kekuasaan Turki di Arab dan Timur Tengah. Mereka berpartner dengan kelompok lokal mana saja yang bersedia dijadikan sebagai "mitra koalisi". Tentang sejarah Transjordan, akan saya jelaskan di kemudian hari (insya Allah).

Monday, January 23, 2017

Para Orientalis Barat Pro-Islam

Setiap membicarakan tentang kaum orientalis, umat Islam di Indonesia biasanya langsung berpikiran negatif, yakni bahwa kaum orientalis itu jahat, anti-Islam, pembenci Muslim beserta budayanya, dlsb. Bagi sebagian mereka, kaum orientalis (baik yang "klasik" maupun kontemporer, baik dari Eropa maupun Barat pada umumnya) adalah musuh Islam dan umatnya.

Bahkan oleh sebagian tokoh, kelompok dan ormas Islam di Tanah Air, kaum orientalis ini dijadikan sebagai materi pengajian, dakwah, dan khotbah Jum'at serta bahan kampanye dan propaganda hitam anti-Barat (dengan demikian anti-Kristen dan Yahudi).

Biasanya yang dijadikan "andalan" rujukan adalah sosok seperti Christian Snouck Hurgronje (w. 1936), seorang sarjana dan orientalis Belanda yang juga penasehat politik pemerintah Belanda dulu. Ia pernah "menyamar" menjadi Muslim dengan nama Abdul Ghaffar dan tinggal beberapa bulan di Makah untuk mengamati aktivitas umat Islam Indonesia disana. Perlu kajian lebih intensif mengenai karya-karyanya tentang "sosok fenomenal" dan "sarjana prolifik" ini supaya lebih imbang dalam memahami pemikiran-pemikiran akademiknya.