LOKER OTOMOTIF

Wednesday, February 8, 2017

Imajinasi Jihad di Jalan Allah

Kalau dilihat dari foto ini (itupun kalau bukan hoax alias "foto editan" he he), sepertinya Pak Ustad Arifin Ilham sedang semangat latihan perang-perangan menggunakan parang. Ciaattt ciaaatttt. Mungkin ia sedang kangen dan merindukan suasana masa lampau Islam. Pak ustad yang hobi mewek dan nangis-nangis kalau ceramah ini juga beberapa kali menyerukan "jihad" (maksudnya "perang") dengan heroiknya dan "gagah perkasa".

Jihad melawan siapa? Mau jihad dimana? Jihad melawan Pak Jokowi dan pemerintah? Itu mah bukan jihad namanya bro. Kalian baru "valid" melakukan jihad di Indonesia, kalau hak-hak seorang Muslim untuk beribadah dan berekspresi dibatasi dan diberangus seperti dulu zaman pemerintah kolonial. Lah sekarang, kalian bebas-merdeka mau melakukan apa saja gak ada masalah. Mau haji atau umrah puluhan kali silakan. Mau bikin masjid / musalla di tiap gang silakan. Mau bengak-bengok ceramah silakan. Bahkan sangking bebasnya, kalian bisa salat seenaknya di jalan raya, kan? Yang itu susah terjadi kalau bukan di Indonesia mas bro. Jihad itu kalau melihat pemerintah telah berbuat jahat dan kekerasan serta korup dan menindas rakyat. Itupun tidak perlu pakai pedang kaleee. Jadul amat.


Atau jangan-jangan mau ikut perang di Irak dan Suriah bergabung dengan gerombolan preman ISIS dan komplotannya? Hanya orang pikun dan rabun atau mereka yang "mabuk agama" saja yang menganggap perang di Irak atau Suriah itu sebagai "jihad di jalan Allah". Anggapan berperang di Irak atau Suriah sebagai "jihad di jalan Allah" itu hanyalah imajinasi belaka yang mungkin lantaran kebanyakan baca komik dan main game.

Buka mata Anda lebar-lebar, jembreng telinga kalian lebar-lebar, baca tulisan-tulisan akademik sebanyak-banyaknya, perang di Irak, Suriah dan dimanapun itu bukanlah masalah agama atau akidah tapi soal perseteruan geo-politik, perkelahian rebutan sumber-sumber ekonomi, gegeran soal batas-batas teritori, perebutan otoritas suku dan klan, perebutan supremasi etnik, dlsb. Tidak ada perang antara masyarakat Sunni dan Syiah.

Yang ada dan terjadi saat ini adalah perang oleh sejumlah kelompok kepentingan (dari mana saja dan ideologi apa saja) yang "ereksi" alias "ngaceng" ingin menguasai aset-aset politik, ekonomi, teritori / geografi, dlsb. Karena sudah "ereksi", mereka pun membabi buta memerangi dan membunuh siapa saja yang dianggap sebagai penghalang niat busuk mereka, sebuah tragedi yang hanya mengakibatkan penderitaan bagi rakyat biasa--apakah itu Sunni, Syiah, Arab, Kurdi, dlsb, yang kini terlunta-lunta hidup dalam kelaparan dan keterbatasan di berbagai tempat pengungsian.

Jadi kalau niatnya berangkat ke kawasan ini itu untuk ikut berperang, maka itu sama sekali bukan "jihad di jalan Allah" tapi "jihad di jalan setan teroris-ektrimis", dan kalau mati jelas bukan mati syahid tapi "mati sangit" alias "abu gosong". Itulah sebabnya kenapa sebagian pemuda Saudi yang dulu ikut berperang di Irak dan Suriah dengan niat awal "jihad di jalan Allah" banyak yang mudik dan kapok karena mereka menyaksikan berbagai kejahatan kemanusiaan di lapangan yang dilakukan oleh kelompok yang mengaku "berjihad" tadi, jauh dari nilai-nilai dan norma-norma keislaman.

Kalau mau "berjihad di jalan Allah", maka bantulah para pengungsi itu, tolonglah rakyat (orang tua, anak-anak, perempuan, dlsb) yang tidak tahu menahu tentang konflik dan kekerasan itu tapi kemudian ikut menjadi korban ganasnya perang.

Bahkan kalau mau berjihad di jalan Allah tidak perlu capek-capek dan jauh-jauh ke Timur Tengah tapi cukup dilakukan di Indonesia dengan membantu pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan, menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan, membantu meningkatkan kualitas pendidikan, membantu memberantas praktek korupsi, membantu mengatasi kejahatan kemanusiaan, dlsb.

Jadi, saudaraku, insaflah, bertaubatlah, kembailah ke jalan yang benar, yaitu jalan yang diridlai Allah, bukan yang diridlai setan teroris-ekstrimis. Pintu taubat selalu terbuka buat siapa saja yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya dan pemahaman agamanya...

0 komentar: