Salah satu problem mendasar dari kelompok "Islam garis lurus" adalah
hilangnya rasa atau selera humor. Karena tidak lagi mempunyai selera
humor, maka pengikut "sekte Islam garis lurus" ini sepertinya susah
sekali tersenyum atau tertawa. Padahal, menurut teori-teori psikologi
humor itu sangat sehat dan menyehatkan. Sementara itu menurut
teori-teori spiritual-keagamaan, humor itu adalah pemberian, hadiah,
atau berkat dari Tuhan.
Islam sendiri mengajarkan
bahwa "senyum itu ibadah". Jadi, bagi umat Islam, tidak ada alasan
untuk tidak beribadah karena ibadah itu gampang sekali, tidak melulu
"menghitamkan jidat" atau menjual kerbau untuk naik haji. Mesam-mesem
atau tersenyum saja dinilai ibadah. Ayo, silakan dipraktekkan di
jalan-jalan he he.
Sejarah humor sudah sangat tua, setua sejarah manusia itu sendiri.
Teori-teori tentang humor juga sudah ada sejak masa peradaban Yunani
Kuno di zaman Plato atau Sokrates. Sastrawan India Kuno, Bharata Muni,
mendefinisikan humor sebagai salah satu dari sembilan respons emosi atau
rasa.
