LOKER OTOMOTIF

Wednesday, January 18, 2017

Humor dan “Islam Garis Lurus”

Salah satu problem mendasar dari kelompok "Islam garis lurus" adalah hilangnya rasa atau selera humor. Karena tidak lagi mempunyai selera humor, maka pengikut "sekte Islam garis lurus" ini sepertinya susah sekali tersenyum atau tertawa. Padahal, menurut teori-teori psikologi humor itu sangat sehat dan menyehatkan. Sementara itu menurut teori-teori spiritual-keagamaan, humor itu adalah pemberian, hadiah, atau berkat dari Tuhan.

Islam sendiri mengajarkan bahwa "senyum itu ibadah". Jadi, bagi umat Islam, tidak ada alasan untuk tidak beribadah karena ibadah itu gampang sekali, tidak melulu "menghitamkan jidat" atau menjual kerbau untuk naik haji. Mesam-mesem atau tersenyum saja dinilai ibadah. Ayo, silakan dipraktekkan di jalan-jalan he he.
Sejarah humor sudah sangat tua, setua sejarah manusia itu sendiri. Teori-teori tentang humor juga sudah ada sejak masa peradaban Yunani Kuno di zaman Plato atau Sokrates. Sastrawan India Kuno, Bharata Muni, mendefinisikan humor sebagai salah satu dari sembilan respons emosi atau rasa.

“Islam Garis Keras” Tidak Marketable

Sebagian orang di Indonesia “khawatir” kalau kelompok “Islam garis keras” atau kelompok “Islam ekstrim” akan berkembang biak karena “laku di pasaran”. Tetapi menurutku kelompok ini tidak akan laku di “pasar global” masyarakat Indonesia. Saya mengkaji berbagai perkembangan kelompok ini di berbagai negara sejak negara-negara pecahan Uni Soviet di Asia Tengah sampai negara-negara di kawasan Asia Seatan, Afrika, Arab, dan Timur Tengah, mereka gagal “memasarkan” ide-ide keagamaan mereka kepada masyarakat.

Ciri-ciri kelompok “Islam Sontoloyo” (istilah ini dari Bung Karno) ini hobi menebarkan pandangan dan tindakan intoleransi, anti-pluralitas, “takfiri” (gemar mengafir-sesatkan orang atau kelompok lain), tidak ramah alias “mbesengut” dengan kelompok luar, tertutup dalam pergaulan alias tidak mau membuka diri dengan dunia luar, arogan alias seenak perutnya sendiri, dan juga gampang ngamuk. Dikit-dikit marah, tersinggung, main pentungan. Silakan kenali ciri-ciri mereka di lingkungan Anda masing-masing. Juga jangan lupa pesan “Bang Napi”.

Tiga Kelompok Kontra Pemimpin Non-Muslim

Saya amati setidaknya ada tiga kelompok atau kubu umat Islam yang kontra terhadap diskursus pemimpin non-Muslim. Pertama, adalah "kelompok fiqih". Yang saya maksud dengan "kelompok fiqih" adalah para ulama, kiai atau "calon kiai" yang ahli Hukum Islam (fiqih) yang mendasarkan pemikiran-pemikirannya berdasarkan teks-teks keislaman, khususnya Al-Quran, Hadis, dan kitab-kitab tafsir dan fiqih, khususnya "fiqih siyasah" (fiqih politik).

Dalam banyak hal, mereka ini "murni" pertimbangan keagamaan-keislaman, meskipun tentu saja ada sejumlah pengecualian disana-sini. Dengan kata lain, karena mereka menemukan sejumlah teks utama dalam Islam serta pendapat para ulama/fuqaha klasik yang melarang non-Muslim sebagai "pemimpin politik-pemerintahan", maka mereka pun "ittiba'" atau taat/mengikuti apa yang tertuang dalam teks-teks keagamaan itu.

Hanya saja perlu dicatat, karena ayat-ayat Al-Qur'an, Hadis dan teks-teks klasik Islam itu "tidak tunggal" atau "seragam", maka banyak pula ulama dan fuqaha kontemporer yang berbeda pendapat mengenai status kepemimpinan non-Muslim ini. Para ulama Al-Azhar, Mesir, misalnya tidak mempermasalahkan umat Islam untuk memilih pemimpin pemerintah non-Muslim karena buat mereka kata "auliya" itu tidak mengacu pada "pemimpin politik-pemerintahan".

Santri: Dari Pesantren Untuk Bangsa dan Agama

Santri adalah siswa pesantren, salah satu (atau mungkin satu-satunya) institusi pendidikan Islam tertua di Jawa. Penggagasnya adalah para kiai-Jawa yang kelak banyak bergabung di ormas Nahdlatul Ulama (NU) pada tahun 1926. Ada yang bilang lembaga dan sistem pendidikan pesantren itu dipengaruhi oleh tradisi Budha. Ada pula yang mengatakan dipengaruhi oleh sistem pendidikan dan cara belajar-mengajar di Masjidil Haram, Makah. Apapun sejarah dan asal-usul pembentukannya, yang jelas pesantren memiliki kontribusi sangat besar bukan hanya bagi perkembangan Islam saja tetapi juga bagi bangsa, negara, dan umat pada umumnya.

Para santri di pesantren-pesantren tradisional NU tidak hanya diajari mengaji tetapi juga mengkaji Al-Qur’an dan kitab-kitab keislaman klasik. Para santri bukan hanya dididik untuk memperdalam keimanan dan ilmu-ilmu keislaman tetapi juga bertoleransi dengan masyarakat sekitar. Pesantren bukan hanya sebatas institusi pendidikan saja tetapi juga lembaga pemberdayaan masyarakat yang turut terlibat dalam penanganan problem-problem sosial keumatan.

Pesantren bahkan bukan hanya “tempat pengajian” saja tetapi juga benteng pertahanan umat dari penjajahan Belanda dan Jepang.
 
Jelasnya, santri bukan hanya diajari untuk membela agama saja tetapi juga membela umat manusia, bangsa dan negara kita tercinta.

Kata "Auliya" Menurut Warga Saudi

Karena didorong oleh rasa penasaran dengan heboh Surat Al-Maidah 51, khususnya tentang makna dari kata "auliya", maka saya pun bertanya kepada para murid dan teman-teman Saudi-ku. Kalau mau sebetulnya gampang mencari makna atau arti kata ini, tinggal buka kamus Bahasa Arab yang kredibel, kita akan tahu sederet arti kata "auliya" ini. Tapi sebagai antropolog, saya harus menggali data dan informasi dengan bertanya kepada orang bukan pada buku/kamus.

Para teman dan muridku itu agak kaget saya bertanya arti kata atau penggunaan kata "auliya" oleh masyarakat Arab/Saudi kontemporer. Menurut mereka, kata ini adalah Bahasa Arab klasik (fushah) yang sudah jarang digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Kalaupun kata ini digunakan, penggunaanya dalam konteks yang sangat spesifik dan mengandung arti/makna spesifik seperti: